Sabtu, 25 Februari 2023
The Relationship of "Sudah PW dan Ingin Kencing"
Jumat, 24 Februari 2023
Salah seorang teman bernama Faza
Test pertama ( Ketika meminjam Tas Gunung, Sleping Bag , Jaket Gunung, Kaos Kaki)
Aku : " Aku besok naik gunung sama temenku, ikut nggak?".
Rakha : " Waduh kayake ga bisa eg, aku ada acara besok ".
Aku : "Aku ki kan pertama kali, boleh pinjem punyamu nggak?".
Rakha: " Iya wes yas bawaen aja".
Alexandro: "Yo".
Faiz : "Iki lo lauk, gak usah beli lauk, iki ae enak" ( lauk sambel dari tiktok shop,taulah).
Saya masih bingung mengapa teman-teman saya dari dulu sampai sekarang pun selalu memudahkan urusan-urusan tidak penting ini. Saya jadi berpikir apakah saya punya pelet untuk hal ini, atau saya selalu beruntung menemukan spesies sejenis mereka.
Selasa, 21 Februari 2023
Panggilan Nama Bapak tidak semenyakitkan panggilan " EYANG"
Sungguh
tidak jelas, konsep olokkan panggilan nama sudah tidak mengikuti aturan nenek
moyang kita. Betapa indah dan syahdu sekali apabila kita dapat memanggil teman
dengan panggilan nama bapak mereka. Efek- efek dopamin sehat akan terus melekat
jika kita bisa memanggilnya seperti itu. Bayangkan, teman saya yang namanya
indah "Alfajaki" bisa dipanggil "Djanoed" oleh anak-anak.
Betapa membahagiakan sekali bisa mengetahui nama bapak teman sendiri. Memang
benar apa kata orang "Untuk apa kita mematok standard kebahagiaan yang
terlalu tinggi, jika mengetahui nama bapak teman adalah kebahagiaan tiada
tanding". Namun, olokkan itu tidak berguna bagi saya. Entah apa yang
memengaruhi anak milenial jaman sekarang sehingga propokator siapa yang
memanggil saya dengan panggilan "EYANG". Masih menyimpan misteri...
Panggilan
eyang lahir saat saya berada dipondok. Tentu sudah menjadi hal yang lumrah bila
dipondok mendapat panggilan tidak sesuai dengan namanya. Hampir 2/3 populasi
teman-teman sudah terpanggil tidak sesuai dengan nama lahir. Panggilan ini pun
ada yang lanjut S1 atau berhenti hanya pas dipondok saja. Adapun sebab
terjadinya kelanjutan S1 dikarenakan alumni pondok banyak yang berada di satu
Universitas yang sama. Budaya yang lalu telah ikut terbawa ke teman-teman baru.
Salah satu panggilan yang lanjut S1 adalah punya saya. Ya mau bagaimana lagi.
Alumni pondok saya banyak yang di UGM.
Kadang
kita harus sadar akan terjadinya suatu resiko jangka panjang. "Eyang"
tentu sudah terlalu melekat pada diri saya. Panggilan nama yang seharusnya yas
mulai terasa asing dan nggak enak didengar. Tentu saya pun sudah berpikir
jangka panjang untuk resiko dari panggilan eyang itu sendiri. Panggilan yang
sudah pasti-pasti banget menggunakan ejaan yang terakhir dan jelas efeknya akan
ambigu. Bayangkan bila chat wa saya terlihat orang tua. Tapi saya harap jangan
pernah. Selain malas menjelaskan, saya juga gak mau orang tua berpikir keras
perihal panggilan itu. Panggilan ini pun telah mendapat perhatian insentif dari
saya. Saya pun sudah bisa
mengkategorikan jenis orang yang memanggil saya dengan panggilan eyang.
1."Yang"
Panggilan
orang biasa yang ingin ngobrol. Panggilan seperti ini hanya biasa-biasa aja.
Kalau chat paling cuma diskusi atau sekedar memberi info atau pum sebaliknya.
2."yangg"
Panggilan
orang biasa yang ada sesuatu. Jenis ini kebanyakan cewe.
3."yangggggyang"
Panggilan
iblis beserta teriakan jahanam. Panggilan ini biasanya cewe yang ingin meminta
bantuan yang tidak penting.
4."yang
eyang"
Panggilan
orang yang mau minjem duit. Ber ejaan tiga kali yang berpola sama dengan
ratusan (Seratus).
5."
eyang"
Panggilan
orang yang tidak terlalu dekat.
6."
ey"
Panggilan
yang wagu didengar dan dibaca.
Dari
kecil selalu merasa risih bila mendengar ada orang ngobrol dengan yang-yangan.
Bapak-ibu saya sendiri juga tidak pernah memanggil yang-yangan. Efek ini seakan
menjadi bom nuklir kepada saya. Bayangkan ini terjadi di tempat umum. Bayangkan
saja dulu. Jika teman cewe bisa anda pahami, meskipun saya sendiri risih. Jika
teman selain cewe, #@*&%#%#&@*#T, Sungguh tidak bisa dijelaskan dengan
kata-kata. Apalagi dengan teriak, ditambahi sentuhan cengkok-cengkok manja,
bayangkan... Orang-orang di luar sana akan berpikir saya apa ya Allah.
Seiring berjalanya waktu, dengan perenungan keikhlasan yang sangat lama. Saya pun memahami, memang panggilan bapak sekarang tidak cukup menarik untuk menjadi panggilan nama teman kita. Karena nama bapak pada jaman sekarang sudah mengikuti perkembangan jaman dan juga tidak selucu dulu. Kalau dulu ada "Sutisna" sekarang sudah berubah jauh "Alfriz" perbedaan yang sangat mencolok. Tidak dapat di pungkiri, kreativitas pemuda jaman sekarang memanglah terbaik. Mereka akan terus mencari cara agar hiburan lama (panggilan nama bapak) akan terus di update dan di modifikasi yang harapanya akan menjadi manfaat. Setidaknya penghilang stress.







