RECENT COMMENTS

4/footer/recent

Sabtu, 25 Februari 2023

The Relationship of "Sudah PW dan Ingin Kencing"

Sebenarnya kisah hubungan ini sudah pernah ada yang menuliskan. Namun, pada kenyataannya cerita ini tidak hanya dirasakan oleh satu orang. Saya juga sering mengalami kisah ini dalam hidup. Dan saya ingin menuliskan kembali hubungan ini dalam bentuk genre comedy-romance Indonesia. Part 1.

Sering kali secara tidak sadar, kita hadir dalam hubungan ini. Menjadi orang ketiga dengan rasa Juancokki sekali disaat rebahan posisi sangat PW, rasa ingin kencing itu datang seperti mantan yang ternyata pacarnya teman kita sendiri, seakan tak pernah merasa bersalah. Padahal, semua rakyat kamar tidur sudah bermesraan masing-masing. Posisi haandphone sudah menancap bermesraan dengan cesnya, bantal sudah berbaringan dengan gulingnya, suara lagu komang sudah mendesah berirama dengan musik boxnya, selimut sudah meniduri kasurnya, sungguh suasana yang sangat romantis. Jika ada gelap maka ada cerah. maka pasangan inilah yang menjadi gelap disaat cerahnya suasana kamar. Tidak akan pernah akur sampai orang ketiga yaitu saya sendiri memutuskan untuk membuang jauh-jauh hubungan mereka. 

Posisi PW : (nyekrol tiktok, shopee, ig, nonton TNS) "AHHhhhh" seluruh badan istirahat.
Kencing    : " ANTERIN KELUAR DONG?", bicara pelan namun memaksa.
Posisi PW : "Wah si Anjink, janganlahh!, hilang nanti aku"
Kencing : "Aku pengen keluar lo, Hayoo"
Posisi PW : " Lo bisa teleport ga sih anjink, udah gabisa inii, hilang nanti aku". 
Kencing : " Ya, gabisa lah goblok, atau aku keluar disini nih"
Posisi PW : " Bodo amat, keluar aja sendiri"  

Posisi PW sangat egois tidak pernah berpikir visioner, mementingkan keinginannya sendiri atau karena Posisi PW terus berada di posisi DPR kita. Sehingga tidak pernah memikirkan tanggung jawabnya sekalipun. Tak perlu waktu lama, orang ketiga  datang dengan sangat sabar dan ikhlas menuruti kemauan Kencing. Kencing disini juga semaunya, tidak pernah bisa sabar ditahan disaaat Posisi PW ada. Entah mengapa dunia terus bertengkar, berperang dan hanya menunggu orang ketiga datang untuk menengahi. Tidak ada satupun dari mereka inisiatif mengalah, merasa dirinya lebih kuat, padahal mengalah belum tentu kalah. 

Mungkin disini Posisi PW kalah di karenakan kencing yang sudah memiliki previlage atau orang dalam yang bisa mengancam anggota (glomerulus) pada pimpinan orang ketiga itu. Namun disisi lain, posisi PW akan terus datang dimana pun. Meskipun kadang ada Kencing mengganggu. 

Sehingga hubungan ini terus ada sampai jadi debu...... Ku di liang yang satu... Ku di sebelahmu..... 

Jumat, 24 Februari 2023

Salah seorang teman bernama Faza


Faza, anak jepara yang belum menikah dan tidak pengen jenggotan ini selalu memiliki apa yang saya butuhkan. Sebenarnya semua teman yang saya kenal, selalu melakukan hal seperti ini. Ketika pertama kali diajak naik gunung, tidak adanya alat, pengalaman, serta finansial yang cukup tidak menjadi alasan untuk tidak berangkat. Dengan modal niat, keberanian, dan motor Vario 150 yang jika saya pake, bapak akan kerja naik sepeda itu, saya selalu mendapatkan bantuan Partial Founded dari teman-teman saya. Entah syarat apa untuk mendapatkan bantuan itu. Bermodal tes wawancara yang tidak semua orang bisa melakukannya.
Test pertama ( Ketika meminjam Tas Gunung, Sleping Bag , Jaket Gunung, Kaos Kaki)

Aku : " Aku besok naik gunung sama temenku, ikut nggak?".
Rakha : " Waduh kayake ga bisa eg, aku ada acara besok ".
Aku : "Aku ki kan pertama kali, boleh pinjem punyamu nggak?".
Rakha: " Iya wes yas bawaen aja".

Sungguh suasana yang magis, alasan apa yang membuat teman saya seperti itu. Kejadian ini juga sama dengan teman bernama Alexandroo

Aku : " Lex/Ndro, pinjem kaos kakimu yo?".
Alexandro: "Yo".

Betapa magisnya itu, tak terduga sekali, kaos kaki seorang pemain handbal kabupaten gresik ini boleh  untuk dipinjamkan. Saya merasa sangat pro untuk wawancara di dunia pernyilih-nyilihan(pinjam-meminjam). Bahkan, ketika saya kehabisan uang beli lauk untuk makan malam ada aja anak di sekre memberikan lauknya secara cuma-cuma. 

Aku : "Nandi dwitku yo", sambil muter-muter mencari sisa-sisa recehan. Faiz datang dengan bayang-bayang malaikat mikail.
Faiz : "Iki lo lauk, gak usah beli lauk, iki ae enak" ( lauk sambel dari tiktok shop,taulah).

Saya masih bingung mengapa teman-teman saya dari dulu sampai sekarang pun selalu memudahkan urusan-urusan tidak penting ini. Saya jadi berpikir apakah saya punya pelet untuk hal ini, atau saya selalu beruntung menemukan spesies sejenis mereka.

Jika benar ada spesies jenis ini, saya pun menemukan jenis yang sangat akut. Tidak semerta-merta dipinjamkan atau diberikan. Bahkan barang-barangnya ada di depan doa sepertiga malam hidup saya. Seperti ketika banyaknya barang untuk syarat ospek lupa saya bawa banyak yang masih ketinggalan di rumah. Saya mengechat meminta tolong di grup "jogjaslay".

Aku :"Ada yang punya dasi hitam nggak?"

Faza mengetik, Sudah menjadi hal yang biasa seperti itu, tanpa waktu yang lama serta wawanncara atau tes yang berlibet pun balesan chat permintaan saya akan menjadi kenyataan.

Faza : "Aku enek"

Setelah dipikir-pikir, dasi hitam saja masih kurang. Kemudian saya meminjam, tablet, tas, klambi, serta kaos kaki kesayangan. Yang jawabanya pasti selalu "Aku ada". Jika di ibaratkan anime maka faza inilah yang menjadi doraemon pemilik kantong ajaib. Bahkan, untuk saya jogging pun dia bersedia meminjamkan kaos kaki kesayangannya.

Sebenarnya masih banyak spesies jenis mereka yang selalu bertemu dengan saya. Meskipun tidak saya ceritakan semuanya. Semoga dengan tulisan ini, spesies jenis mereka terus bertambah merucut bahkan sampai ke dunia pemerintahan kepada rakyat kecil. Semoga mereka-mereka akan awet( istiqomah) bukan hanya kepada saya (malah ke enakan nanti) melainkan pada semua orang. 

Selasa, 21 Februari 2023

Panggilan Nama Bapak tidak semenyakitkan panggilan " EYANG"

Sungguh tidak jelas, konsep olokkan panggilan nama sudah tidak mengikuti aturan nenek moyang kita. Betapa indah dan syahdu sekali apabila kita dapat memanggil teman dengan panggilan nama bapak mereka. Efek- efek dopamin sehat akan terus melekat jika kita bisa memanggilnya seperti itu. Bayangkan, teman saya yang namanya indah "Alfajaki" bisa dipanggil "Djanoed" oleh anak-anak. Betapa membahagiakan sekali bisa mengetahui nama bapak teman sendiri. Memang benar apa kata orang "Untuk apa kita mematok standard kebahagiaan yang terlalu tinggi, jika mengetahui nama bapak teman adalah kebahagiaan tiada tanding". Namun, olokkan itu tidak berguna bagi saya. Entah apa yang memengaruhi anak milenial jaman sekarang sehingga propokator siapa yang memanggil saya dengan panggilan "EYANG". Masih menyimpan misteri...

Panggilan eyang lahir saat saya berada dipondok. Tentu sudah menjadi hal yang lumrah bila dipondok mendapat panggilan tidak sesuai dengan namanya. Hampir 2/3 populasi teman-teman sudah terpanggil tidak sesuai dengan nama lahir. Panggilan ini pun ada yang lanjut S1 atau berhenti hanya pas dipondok saja. Adapun sebab terjadinya kelanjutan S1 dikarenakan alumni pondok banyak yang berada di satu Universitas yang sama. Budaya yang lalu telah ikut terbawa ke teman-teman baru. Salah satu panggilan yang lanjut S1 adalah punya saya. Ya mau bagaimana lagi. Alumni pondok saya banyak yang di UGM.

Kadang kita harus sadar akan terjadinya suatu resiko jangka panjang. "Eyang" tentu sudah terlalu melekat pada diri saya. Panggilan nama yang seharusnya yas mulai terasa asing dan nggak enak didengar. Tentu saya pun sudah berpikir jangka panjang untuk resiko dari panggilan eyang itu sendiri. Panggilan yang sudah pasti-pasti banget menggunakan ejaan yang terakhir dan jelas efeknya akan ambigu. Bayangkan bila chat wa saya terlihat orang tua. Tapi saya harap jangan pernah. Selain malas menjelaskan, saya juga gak mau orang tua berpikir keras perihal panggilan itu. Panggilan ini pun telah mendapat perhatian insentif dari saya.  Saya pun sudah bisa mengkategorikan jenis orang yang memanggil saya dengan panggilan eyang.

1."Yang"

Panggilan orang biasa yang ingin ngobrol. Panggilan seperti ini hanya biasa-biasa aja. Kalau chat paling cuma diskusi atau sekedar memberi info atau pum sebaliknya.

2."yangg" 

Panggilan orang biasa yang ada sesuatu. Jenis ini kebanyakan cewe.

3."yangggggyang" 

Panggilan iblis beserta teriakan jahanam. Panggilan ini biasanya cewe yang ingin meminta bantuan yang tidak penting.

4."yang eyang"

Panggilan orang yang mau minjem duit. Ber ejaan tiga kali yang berpola sama dengan ratusan (Seratus).

5." eyang"

Panggilan orang yang tidak terlalu dekat.

6." ey"

Panggilan yang wagu didengar dan dibaca.

 

Dari kecil selalu merasa risih bila mendengar ada orang ngobrol dengan yang-yangan. Bapak-ibu saya sendiri juga tidak pernah memanggil yang-yangan. Efek ini seakan menjadi bom nuklir kepada saya. Bayangkan ini terjadi di tempat umum. Bayangkan saja dulu. Jika teman cewe bisa anda pahami, meskipun saya sendiri risih. Jika teman selain cewe, #@*&%#%#&@*#T, Sungguh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Apalagi dengan teriak, ditambahi sentuhan cengkok-cengkok manja, bayangkan... Orang-orang di luar sana akan berpikir saya apa ya Allah.

Seiring berjalanya waktu, dengan perenungan keikhlasan yang sangat lama. Saya pun memahami, memang panggilan bapak sekarang tidak cukup menarik untuk menjadi panggilan nama teman kita. Karena nama bapak pada jaman sekarang sudah mengikuti perkembangan jaman dan juga tidak selucu dulu.  Kalau dulu ada "Sutisna" sekarang sudah berubah jauh "Alfriz" perbedaan yang sangat mencolok. Tidak dapat di pungkiri, kreativitas pemuda jaman sekarang memanglah terbaik. Mereka akan terus mencari cara agar hiburan lama (panggilan nama bapak) akan terus di update dan di modifikasi yang harapanya akan menjadi manfaat. Setidaknya penghilang stress.