"Hello world" merupakan program pertama yang ditulis oleh orang-orang yang belajar kode. Ini juga dapat digunakan sebagai tes kewarasan untuk memastikan bahwa bahasa komputer diinstal dengan benar, dan bahwa operator memahami cara menggunakannya(Wikipedia). Kata ini adalah salam saya untuk menyapa makhluk dari berbagai macam dimensi yang dimaksudkan agar membantu saya dalam penulisan proyek ini. Bukan proyek besar atau penting, tidak juga dibiayai. Melainkan kepekaan beberapa teman untuk membantu masyarakat selingkup teman saya sendiri untuk dapat memahami atau paling tidak merasa win-win solution atas kejadian-kejadian di luar nalar didalam dialog seorang Syaiful Isa.
Para pembaca sekalian, saya akan membawa kalian semua untuk memasuki sebuah dimensi dimana kalian semua akan merasakan kegalauan, kecemasan, dan lebih parah lagi yaitu ketawa-ketawa sendiri. Harap untuk teman-teman bersiap memahami karena ini sangat perlu untuk keperluan sosial berkomunikasi. Kalian pasti sudah resah jika menemukan seorang ini pada saat apapun, ngechat di grup wa, berbicara sendiri, menanggapi apa yang tidak perlu ditanggapi, pokoknya yang berhubungan dengan interaksi sosial. Menurut saya, beliau memang diciptakan seperti itu (authentic). Memang manusia juga diciptakan memiliki ke authentickannya masing-masing. Tapi untuk sosok yang satu ini sangat memberontak standard sosial berinteraksi. Saya terus mengamati untuk menangkap pola nya dalam berinteraksi. Alhamdulliah saya masih satu kontrakan dengan beliau. Jadi proses karya penelitian ini dapat dilakukan dengan cepat.
Sebelumnya, kita tarik ulur sejarah beliau ini terlebih dahulu. Konon katanya, solusi akan bisa didapatkan dengan mempelajari sejarahnya terlebih dahulu. Kemudian kita akan bisa menangkap polanya. Seperti filosofi busur panah yang akan di tembak menuju target. Busur panah akan ditarik mundur dahulu. Kemudian saat dilepas, busur itu melesat sangat jauh menembus target. Beliau kecil tinggal di daerah Jabodetabek tepatnya di Tangerang Selatan. Saya tidak tahu ya rasanya kecil di Tangsel itu seperti apa rasanya. Yang jelas faktor lingkungan ini mungkin sangat memengaruhi. Kemudian semasa SMA beliau mondok di Jawa Timur. Jelas sangat mengalami culture shock perihal bahasa dan budaya. Tiga tahun beliau ini mondok, membuat skill bahasa jawa beliau serta sifat-sifat beliau sudah bercampuran, antara Tangsel dan Jawa Timur. Hal ini mungkin dapat menjadi hipotesa mengapa beliau cara berirentaksinya agak lain (bebeda maksude). Dan beliau sekarang bertinggal di Jogja untuk menjalani aktivitas kuliahnya.
Saya memiliki beberapa sampel tentang cara beliau mencoba berinteraksi. Sampel ini diambil cuma di grup WA, yang kebetulan satu grup dengan beliau. Nama beliau disamarkan dengan coret biru.







