RECENT COMMENTS

4/footer/recent
Tampilkan postingan dengan label #barokahalways #bahagia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #barokahalways #bahagia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 April 2023

Mengidap penyakit bahagia "Kuliah di Yogyakarta"

Judul ini hanyalah metafora untuk sebuah cerita yang sebetulnya normal-normal saja. Hanya saja saya yang memaknainya terlalu dalam bak mendengarkan cerita seorang sufi. Sebagai manusia biasa, kebutuhan untuk berkomunikasi sangat perlu untuk saya. Komunikasi yang indah salah satunya adalah berbagi cerita pada manusia lain. Dan semua orang pasti memiliki cara bercerita masing-masing. Entah diceritakan lewat pacarnya, orang tuanya, teman-temanya atau seperti saya ini lewat tulisan (jelas jomblo ne). Sesuai dengan judul, saya akan menejelaskan dengan alasan yang sangat subjektif. Jadi jangan mendebat dengan argumen-argumen berdasarkan faktor ekonomi. Yang sudah jelas faktor ekonomi menjadi faktor pokok kebahagiaan manusia sekarang bahkan saya sendiri. Sampai SUKSES jaman sekarang pengartiaanya selalu perihal ekonomi, ahh ya memang seperti itu biarlah. 

Alhamdulilah adalah kata pertama yang saya ungkapkan ketika mendapat kesempatan kuliah di Yogyakarta. Ya meskipun semua orang juga mengucapkan seperti itu ketika keinginannya bisa terwujud (gak kabeh se jane). Bisa kuliah di Yogyakarta merupakan sebuah keberuntungan yang sangat saya syukuri. Sudah 10 bulan saya tinggal di Jogja. Tidak ada penyesalan sedikitpun untuk mengambil pilihan ini. Tidak seperti orang bilang "Kuliah itu senengnya pas keterima dan pas lulus, selebihnya tidak", kalau dipikir-pikir memang benar. Tapi banyak alasan lain untuk dapat seneng dengan mudah. Terlepas dari event-event gratisan, semua masjid menyediakan buka gratis (ramadhan), polisi yang tidak ketat, teman-teman perkuliahan, kontrakan, alumni juga menjadi sebab. Dan masih banyak faktor lain untuk bahagia dengan mudah. Bahagia menurut saya itu, ketika kita pengen satu tapi dapetnya dua, tiga. Ketika kita pengenya ini tapi dapetnya lebih. 

Adanya percobaan bunuh diri kemarin, seakan membantah dengan telak judul ini dan membuat saya bingung. Untung kemarin masih bisa terselamatkan. Meskipun mentalnya belum. Percobaan bunuh diri setahu saya sudah terjadi tiga kali selama saya kuliah di UGM. Saya pun penasaran dan mencari di internet, apa yang menjadi sebab orang bunuh diri.  Dari bebrapa artikel yang saya baca, depresi menjadi kata yang selalu ada pada sebab orang bunuh diri. Depresi, memendam rasa sakit yang terlalu lama, stres berkepanjangan. Adapun yang menjadi penyebab besar orang depresi adalah sosial media. Kehadirannya untuk menjembatani manusia berkomunikasi malah membuat orang merasa kesepian. Ya itu juga yang saya rasakan ketika melihat status orang-orang. Ikut ini, ikut itu, pacaran sini, pacaran situ, maen sini, situ biyohh-biyoh. Merasa kesepian memang iya tapi setelah itu ya kepikiran lainnya, tugas kuliah, baju belum dicuci, sepatu belum dicuci, belum beli beras ya semacam itulah. 

Mungkin ini bisa menjadi alternatif solusi untuk penderita depresi akut jika tidak ingin bertemu psikolog. Melakukan hal-hal sepele menyebalkan seperti cuci baju yang kalau kita nyuci pagi terus ditinggal kuliah kemudian kehujanan. Sambil misuh-misuh dan ketawa-ketawa sendiri. Motor mati pas berangkat kuliah karena lupa belum ngisi bensin. Kontak motor yang bisa jalan pindah-pindah tempat pas dicari (memang tolol). Hp lupa belum dicas disaat butuh-butuhnya. Kadang kita perlu mencari atau lebih peka pada masalah-masalah kehidupan sepele seperti itu. Agar tidak memikirkan tentang self self mental itulah pokoknya. Makanya orang jaman dulu tidak pernah stress, anxiety, ya karena mereka disibuki oleh hal-hal bertahan hidup. Mereka selalu mencari cara agar dapat bertahan hidup. Bercocok tanam, bikin kapak, bikin busur. Maka benar apa yang dibilang Biksu Tong pada serial kera sakti "Kosong adalah isi, isi adalah kosong". Yang maknanya masih menjadi perbincangan sampai sekarang (diskusikanlah).