RECENT COMMENTS

4/footer/recent

Minggu, 10 September 2023

Belajar Menulis Puisi berjudul Teman-teman.


Umur saya sudah hampir menginjak 20 tahun (tambah tuwek, tapi masih muda). Teman-teman saya jelas masih muda juga. Belajar membuat puisi tentu masih boleh dan tidak dilarang negara. Puisi ini tidak semerta hanya teman saya yang bisa menikmati. Orang asing juga bisa (bayangkan saja menjadi teman saya). Dan alhamdlillah saya tetap menghormati semua orang tua karena mereka lebih dulu ada di bumi. Bingung ya?, saya pun bingung, ntar kalau gak bingung pas udah disurga (Aldi Taher).

Bismillah..
Teman-teman, bahagialah..
Karena dengan bahagia, semua aspek dari kehidupanmu akan digampangkan...
Dan jangan lupa sedih, karena itu juga menjadi sebab kebahagiaanmu...

Maaf jika aku lupa namamu
atau lupa wajahmu
umur kita akan terus bertambah
kalau kata ayah pidi, lupa itu mudah, dan tidak masalah    
yang penting jangan benci terlalu murkah

Maaf jika aku lupa rumahmu
atau lupa nama tengahmu
atau yang tidak punya nama tengah
Tentu tak masalah

Karya manusia muda
Kopi pake gula
Celana dalam masih dua
Becyandha-becyandha

Mencoba meng-abstraksi "Meja Kursi"

Meja itu terlihat seperti kayu yang mati dan bermanfaat. Walaupun tidak semua tentang kayu. Ada komponen alumunium dan plitur yang juga turut membuatnya berbentuk seperti meja. Meja juga memiliki teman namanya kursi. Namun, tidak semua meja meminta kursi untuk menjadi temannya. Teman yang hampir selalu bersama-sama. Di kafe, di rumah, di warung, dan masih banyak tempat-tempat mereka saling berkumpul. Kadang meja membutuhkan kursi, kadang pula kursi membutuhkan meja. Kadang malah penak lesehan. Penggunaan kata kursi daimbil dari bahasa arab "kursiyun"(bahasa arab yang diindonesiakan). sedangkan meja saya tidak tahu persamaan kata bahasanya. 

Ada sebuah kutipan menarik tentang kata meja kursi dalam satu kalimat Mbah Alm.Albert Einstein. Seorang fisikawan kelahiran jerman. "Meja, kursi, semangkuk buah dan biola; Apa yang dibutuhkan seorang pria untuk bahagia?" kalau tanggapan masyarakat desa saya mungkin akan memiliki pola yang sama. "Meja, kursi, secangkir kopi dan rokok surya; Apa yang dibutuhkan pria untuk bahagia?"

Ada banyak sekali jenis meja. Secara fungsionalitas, meja memiliki umur yang lebih tua dibandingkan kursi. Dalam bayangan saya, kebutuhan manusia secara naluri akan membutuhkan meja terlebih dahulu, sebelum naluri nya membutuhkan kursi. Tapi ternyata pendapat ini belum benar jika menurut chatgpt. Chatgpt menarik hal ini secara historis, menurut mesin ini, kemungkinan besar kursi diciptakan duluan sebelum meja. Chatgpt memberikan pengetahuan tentang bagaimana kursi difungsikan untuk orang yang memiliki kedudukan atau status sosial yang tinggi. Sedngkan meja akan selalu identik dalam dunia perpolitikan. Seperti KMB(Konferensi Meja Bundar), Meja panjang yang digunakan presiden putin untuk menemui presiden negara lainnya. Tentu, perdebatan meja dan kursi lebih duluan mana semoga akan bisa bermanfaat untuk anak cucu. Renungkanlah sebuah quote dari Biksu Tong "Kosong adalah isi, Isi adalah kosong".

Minggu, 03 September 2023

Ya begitulah Ayad-ayada


Memang kalau kata orang bijak pengalaman adalah guru terbaik. Tapi menurut saya guru terbaik adalah teman itu sendiri. Karena dengan mempunyai teman kita bisa belajar berbagai pengalaman dengan mereka. Ujung-ujunge lha pengalaman to bosku.... 

Bertanya dengan pertanyaan sengawur-ngawur pun kalau sama teman tak ada sungkan. Lha pertanyaan seperti gimana cara istiqomah jika kita tanyakan kepada guru jawabnya jelas dengan teoristis, agamis, atheis, analisis. Beda kalau pertanyaan ini saya lontarkan pada teman, jawabanya mungkin mengandung anarkis, marksis tapi jawaban itulah yang memang kadang memuaskan. Hal seperti inilah yang kadang saya tanyakan pada sosok teman yang bernama Ayad ini. 

Memang secara hirearki sosial agak kurang pantas jika saya menyebutnya teman, akan lebih pantas jika saya menyebutnya atasan, mas, atau calon bos (hehe). Tapi saya sadar dunia hanya permainan mungkin ayad akan risih jika saya menulisnya seperti itu hahaha.

Jadi begini yad, calon bos, aduh saya kok jadi ngawur gini ya. Maafkan saya yad, eh mas ayad.

Pada saat masih di pondok, saya termasuk salah satu orang yang mengidolakan beliau ini. Tak heran, Ayad atau mas ayad ini adalah sosok yang populer tatkala menjadi kakak kelas saya dahulu. Wakil ketua osis, watak yang terlihat dingin, wajah yang memenuhi kriteria sosial jelas membuat cewe-cewe angkatan saya yaa ter unch-unch. Tentu, alasan saya mengidolakan beliau bukan karena tampan. Namun karena pemikiran (taii👆). Saya mengenal ayad adalah ketika saya diospek (ospek santri baru). Kesan pertama saat melihat ayad adalah pemberontakan. Bertampang keras, berambut tipis (botak kala itu), dengan senyumnya yang malu-malu asu. Terlihat dari tekstur wajahnya beliau ini memang beringas keras. Bahkan ketika saya dipondok selama 3 tahun saya tidak mau atau tidak pernah(gak wani maksude) ngobrol sekalipun dengan ayad. Kalau kata Agus Milyadi penulis sekaligus influencer itu mengatakan "kadang kita perlu menjaga jarak dengan idola". Ya kalau sudah kenal jadi bukan idola lagi.    

Pertama kali bisa ngobrol dengan beliau adalah ketika saat sudah saya lulus pondok atau saat saya sedang menjadi mahasiswa yang sama-sama kuliah di jogja. Kedekatan loyalitas antar alumni pondok kami memang tidak pernah diragukan. Sambutan hangat alumni yang lebih dulu di jogja selalu menjadi tradisi yang sudah melekat. sst saya pengin kembali ke mas ayad dulu ini. Entah mengapa saran-saran kehidupan yang diucapkan ayad selalu terdengar melodius bagi saya. Mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama. Wajah yang dulu terlihat keras sekarang cenderung unyu. Dan setelah sudah sering bertemu, orang yang dulu saya idolakan sekarang sungguh tiada sudi bibir ini mengucapkan. 

Dibalik sedikit latar belakang yang terlihat keras, ayad juga memiliki kekonyolan yang kadang saya cuma mengiyakan. Boleh dipercayai atau tidak. Mungkin teman atau pacarnya juga sepemikiran dengan saya. Ayad selalu mengatakan " Aku iki kalau ngerokok rasanya mau muntah" sudah hampir 3 kali orang ini berbicara pada saya dengan jari yang menggapit rokok.

Ayad menjalani kehidupan di Jogja dengan mengambil kuliah Hukum di UII. Salah satu kampus yang menjadi bagian orang besar Pak Mahfud dan Gus Baha'. Ia juga akan mencoba keperuntungan bisnis di dunia perwangi-wangian. Dan jujur sebetulnya saya tidak pernah tahu detail kehidupan seorang Ayad-ayada. Tulisan ini murni karena nafsu saya yang kebetulan muncul sebagai ujung pembuktian karena saya ditawari kerja untuk projectnya. Yang sebenarnya tidak perlu pembuktian, jan bodo tenan aku jane. Saya juga tidak melakukan penelitian tentang ayad. Faktor malas salah satunya. Saya hanya menerima saran dari Mas Moto (sahabat yang lebih tahu ayad) yang ikut menyuarakan "Tulisen penjahat kelamin". "Loo Ga bahaya Ta" lek gini ya to calon boss.


sedikit tambahan, hal yang kemungkinan kecil benar adalah bahwa ayad ini menurut saya hidupnya akting. Jika benar wahh perlu belajar lagi muaass.