Memang kalau kata orang bijak pengalaman adalah guru terbaik. Tapi menurut saya guru terbaik adalah teman itu sendiri. Karena dengan mempunyai teman kita bisa belajar berbagai pengalaman dengan mereka. Ujung-ujunge lha pengalaman to bosku....
Bertanya dengan pertanyaan sengawur-ngawur pun kalau sama teman tak ada sungkan. Lha pertanyaan seperti gimana cara istiqomah jika kita tanyakan kepada guru jawabnya jelas dengan teoristis, agamis, atheis, analisis. Beda kalau pertanyaan ini saya lontarkan pada teman, jawabanya mungkin mengandung anarkis, marksis tapi jawaban itulah yang memang kadang memuaskan. Hal seperti inilah yang kadang saya tanyakan pada sosok teman yang bernama Ayad ini.
Memang secara hirearki sosial agak kurang pantas jika saya menyebutnya teman, akan lebih pantas jika saya menyebutnya atasan, mas, atau calon bos (hehe). Tapi saya sadar dunia hanya permainan mungkin ayad akan risih jika saya menulisnya seperti itu hahaha.
Jadi begini yad, calon bos, aduh saya kok jadi ngawur gini ya. Maafkan saya yad, eh mas ayad.
Pada saat masih di pondok, saya termasuk salah satu orang yang mengidolakan beliau ini. Tak heran, Ayad atau mas ayad ini adalah sosok yang populer tatkala menjadi kakak kelas saya dahulu. Wakil ketua osis, watak yang terlihat dingin, wajah yang memenuhi kriteria sosial jelas membuat cewe-cewe angkatan saya yaa ter unch-unch. Tentu, alasan saya mengidolakan beliau bukan karena tampan. Namun karena pemikiran (taii👆). Saya mengenal ayad adalah ketika saya diospek (ospek santri baru). Kesan pertama saat melihat ayad adalah pemberontakan. Bertampang keras, berambut tipis (botak kala itu), dengan senyumnya yang malu-malu asu. Terlihat dari tekstur wajahnya beliau ini memang beringas keras. Bahkan ketika saya dipondok selama 3 tahun saya tidak mau atau tidak pernah(gak wani maksude) ngobrol sekalipun dengan ayad. Kalau kata Agus Milyadi penulis sekaligus influencer itu mengatakan "kadang kita perlu menjaga jarak dengan idola". Ya kalau sudah kenal jadi bukan idola lagi.
Pertama kali bisa ngobrol dengan beliau adalah ketika saat sudah saya lulus pondok atau saat saya sedang menjadi mahasiswa yang sama-sama kuliah di jogja. Kedekatan loyalitas antar alumni pondok kami memang tidak pernah diragukan. Sambutan hangat alumni yang lebih dulu di jogja selalu menjadi tradisi yang sudah melekat. sst saya pengin kembali ke mas ayad dulu ini. Entah mengapa saran-saran kehidupan yang diucapkan ayad selalu terdengar melodius bagi saya. Mungkin orang lain juga merasakan hal yang sama. Wajah yang dulu terlihat keras sekarang cenderung unyu. Dan setelah sudah sering bertemu, orang yang dulu saya idolakan sekarang sungguh tiada sudi bibir ini mengucapkan.
Dibalik sedikit latar belakang yang terlihat keras, ayad juga memiliki kekonyolan yang kadang saya cuma mengiyakan. Boleh dipercayai atau tidak. Mungkin teman atau pacarnya juga sepemikiran dengan saya. Ayad selalu mengatakan " Aku iki kalau ngerokok rasanya mau muntah" sudah hampir 3 kali orang ini berbicara pada saya dengan jari yang menggapit rokok.
Ayad menjalani kehidupan di Jogja dengan mengambil kuliah Hukum di UII. Salah satu kampus yang menjadi bagian orang besar Pak Mahfud dan Gus Baha'. Ia juga akan mencoba keperuntungan bisnis di dunia perwangi-wangian. Dan jujur sebetulnya saya tidak pernah tahu detail kehidupan seorang Ayad-ayada. Tulisan ini murni karena nafsu saya yang kebetulan muncul sebagai ujung pembuktian karena saya ditawari kerja untuk projectnya. Yang sebenarnya tidak perlu pembuktian, jan bodo tenan aku jane. Saya juga tidak melakukan penelitian tentang ayad. Faktor malas salah satunya. Saya hanya menerima saran dari Mas Moto (sahabat yang lebih tahu ayad) yang ikut menyuarakan "Tulisen penjahat kelamin". "Loo Ga bahaya Ta" lek gini ya to calon boss.
sedikit tambahan, hal yang kemungkinan kecil benar adalah bahwa ayad ini menurut saya hidupnya akting. Jika benar wahh perlu belajar lagi muaass.








0 komentar:
Posting Komentar