Saya bingung mau ngasih judul apa. Pendakian ini merupakan salah satu pendakian ajaib yang pernah saya alami. Ajakan mendaki di sela-sela kehidupan kuliah adalah ide yang cukup menarik. Ide yang tidak hanya bersuara namun berpogres menjadi rencana dan kegiatan. Rencana ini sudah tertata sejak h-5 pendakian. Berawal dari nongkrong saya bersama teman-teman kemudian paklek saya ngechat.
Paklek : "Masih senang ndaki ora?".
Aku :"Ya pasti masih".
Paklek" Ayo yas lawu, isok nggak?". Bajigur kok ya langsung to the point gini batin saya.
Aku : "Gass ae, kosongku sabtu minggu, sampean carikan tanggal ae mas", .
Paklek : "Tanggal 11-12 bisa nggak?".
Tanpa pikir yang ruwet-ruwet, ajakan ini langsung saya iyakan. Kemudian saya menanyakan hasil diskusi ini pada empat teman saya, "Aku besok sabtu berangkat ke lawu, ikut nggak?". Tanpa pikir panjang, teman saya juga mengiyakan ajakan saya. Begitulah sosok lelaki sebenarnya, diskusi yang hanya butuh 5 menit, bahkan cuma modal WA, rencana pun dapat tersampaikan dengan jelas dan baik.
Jumat, 10 Maret 2023, kami berempat berangkat menuju basecamp dengan menggunakan sepeda motor. Cuaca yang tidak jelas, kadang hujan, kadang panas membuat perjalanan ini terwanai oleh kekhawatiran diri sendiri. Perjalanan dari kontrakan saya (jogja) menuju basecamp Candi Cetho sekitar 5 jam. Itu pun sudah plus berhenti makan dulu di karangayar. Sesampainya di basecamp, kami disambut oleh teman yang sudah datang duluan. Ia berangkat sendiri dari Solo yang hanya butuh 2 jam setengah untuk sampai ke bascamp pendakian. Rasa capek akan perjalanan ditambah suasana malam di basecamp, tak butuh waktu lama untuk membuat kami tertidur.
Sabtu, 11 Maret 2023, berhubung paklek saya tidak kunjung datang (baru berangkat pagi dari Kediri). Saya memutuskan untuk meminta teman-teman lebih dulu memulai pendakian agar tidak terlalu merepotkan. Teman-teman mulai berangkat dari basecamp tepat pukul 8 pagi, sedangkan saya masih menunggu paklek datang. Entah saya dan teman-teman berpikir apa pada saat pamitan. Isi dari tas kami masing-masing tetap sama dari berangkat. Dompet saya dan setengah logistik perjalanan dibawa teman-teman saya naik. Yang lebih parah, saya tidak tahu ciri tenda yang dibawa. Kebutuhan kamar mandi dan ces yang serba ekonomis pariwistis (bayar). Ya dalam posisi itu saya menahan kencing dan memaksa tidur sembari menunggu paklek yang tidak kunjung datang. Sebelum tidur saya menyempatkan mengeces hp agar dibayar paklek pas sudah datang.
Jam 11 siang saya bangun dengan panik, takut paklik sudah kebingungan mencari tempat basecamp saya. Kemudian saya mengambil handphone yang ada di rental ces. "Mas bayarnya tunggu bentar ya, uangnya tak ambil dulu", kata saya pada penjaga rental ces yang padahal saya meminta uang pada paklek. Dan ternyata benar, panggilan misscal sudah 2 kali (untung masih 2 kali, berarti barusan sampek). Paklik datang dengan sambatan google map yang merepotkan perjalannya (Google yang sudah bayak membantu pun masih bisa disambati). Kami mengobrol sebentar, berbicara perihal alasannya mengapa baru datang serta perasaan gak enak pada saya yang sudah lama menunggu. Istirahat dan registrasi pun usai, kemudian kami bergegas siap-siap berangkat menuju pendakian.
Pada via Candi Cetho, terdapat lima pos, yang pos terakhirnya adalah sabana. Saya sebelumnya sudah sepakat dengan teman saya untuk ngecamp disitu aja. Saya dan paklek berangkat pukul 12.30 dari basecamp. Kami sepakat melakukan pendakian agak terlalu cepat agar menghindari pendakian malam. Ada sebuah artikel di internet menyebutkan, pendakian di lawu via candi cetho membutuhkan waktu standard sekitar tujuh jam untuk sampai ke pos 5 (gupak menjangan). Jadi perkiraan untuk sampai sekitar jam 7 malam.
Ngobrol perihal dunia menjadi hiasan perjalanan kami. Fakta menarik yang kemudian menjadi hiburan bagi saya adalah ternyata paklik juga merupakan penonton setia Dzawin Nur (Youtuber Traveling). Ya seperti yang diketahui bang Dzawin dalam videonya selalu mencari-cari setan gunung. Ia bahkan melakukan comedy yang menurut saya sangat berani (melakukan hal yang dianggap memanggil setan). Sangat kebetulan sekali paklik selalu dibilang indigo menurut cerita-cerita keluarga saya. Pas sekali moment ini, Gunung lawu, paklik indigo, pendakian malam. "Mas agus, nko lek pean ndelok Pochi(pocong jaman now), pean duduhi aku yo", celetuk saya pada paklik. Sungguh posisi yang membuat saya penasaran. Sunset yang indah, serta perjalanan menuju maghrib membuat saya yang dari tadi guyonan perihal setan-setan pun agak terdiam(udah capek ngomong ini). Situasi yang diinginkan tiba (malam). Kenapa ?, karena pengen ketemu ...... . tapi juga pengen nggak ketemu malam karena saya lupa dengan warna tenda yang dibawa teman saya.
Tidak terlalu lama untuk ditemani malam, Kami pun tiba di pos 5 sabana Gupak Menjangan. "Ndlogok" batin saya, pada diri saya sendiri ketika bertemu dengan sabana yang sangat luas sekali. "Mas agus, iki wes ketemu sabana tapi kok ga enek wong ngecamp ngene" kata saya pada paklik. Paklik hanya terdiam. Sabana merupakan area padang rumput yang sangat luas dan terbuka. Tidak adanya vegetasi membuat kami diterjang angin dan suhu dingin yang sangat ekstrim. Keputusan perlu diambil cepat. Tanpa diskusi yang terlalu lama saya pun memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan.
setelah hampir setengah jam perjalanan, kami menemukan sabana yang menjadi tempat untuk ngecamp. "Alhamdulillah" ucap saya. Namun tantangan tidak berhenti disini. Saya dan paklik masih mencari tenda yang sudah dipasang teman saya lebih dulu. "Is , fais" terus memanggil-manggil di antara tenda orang-orang yang sudah berjejeran banyak sekali. Setelah melewati semua tenda dari ujung ke ujung. Kami tetap tidak menemukan teman yang sudah dulu sampai. Saya dan paklik memutari kembali dan terus memastikan apa ketiduran teman saya yo. Alhasil saya dan paklik pun menyerah. Situasi angin yang mencekam sangat dingin. Membuat dingin tembus kedalam jacket paklik saya. Kekhawatiran saya pun membuat saya agak sedikit panik. Keputusan terbaik adalah melanjutkan perjalanan. Pikir saya waktu itu adalah menginap di warung mbokyem (salah satu warung tertinggi di jawa).
Sabana yang saya pikir adalah pos terakhir ternyata salah. Saya dan paklik menemukan sabana tempat pendaki ngecamp. Saya melakukan hal yang sama seperti di sabana sebelmunya. Memanggil-mangil teman saya sembari mengelilingi tenda-tenda pendaki lainnya. "is fais, din mudin" nama yang saya sebutkan adalah nama teman saya. Dan sial, saya dan paklik tak kunjung menemukan tendanya. Ketika itu, saya dan paklik memutuskan istirahat sebentar di bawah pohon untuk menghindari hawa dingin yang mencekam. Karena saya merasa kasihan pada paklik "Sampean istirahat neng kene sek ae mas, tak golekane tendone" ucap saya. Paklik pun tidak mau dan masih ingin mencari bersama-sama. Sungguh tak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Fais memanggil-mangil saya. "yas diyas". Tidak perlu lama, saya dan paklik langsung menghampiri dan masuk tenda yang sudah disiapkan oleh teman saya.