Bagi yang belum tahu, fortta merupakan nama panggilan dari nama angkatan saya pas di pondok. Fortta alias Forttablazed, alias effort to de Blaze ini kalau dijelaskan secara filosofis saya pun tidak tahu maksud artinya (maaf yang bikin nama). Ya kalau diketahui juga tidak penting-penting amat untuk hidup saya. Sudah hampir setahun angkatan ini lulus dari pondok. Perjalanan teman-teman pun berbeda-beda. Ada yang milih jalan sendiri, ada yang karena nasib (pilihan orang tua), ada yang nabrak-nabrak, ada yang numpang jalan, dan masih banyak lagi. Yang penting harapan saya mereka semua terus berjalan, pelan-pelan tapi terus, ora mung jalan di tempat, atau lari sebentar terus capek, berhenti. Sampai jalan makadam pun terjang saja, jangan cuma sambatan. Meskipun asline yo ancen gak penak (ya ga enak)gronjal-gronjal marai loro sudu'en.
Banyak dari teman-teman yang melanjutkan untuk kuliah. Ada juga yang belum, ada yang sudah kerja, ada yang dua-duanya(kuliah kerja), bahkan ada yang masih di pondok. Padahal, dalam hati saya nungguin siapa yang nikah duluan. Bayangkan baru lulus, satu diantara teman-teman ada yang nikah. Pasti sangat seru sekali mendengarkan cerita aksi pergulatan ranjang mereka. Saya sendiri senang melihat keluh-kesah teman-teman melewati perjalanan pencarian jati diri. Meskipun juga tidak semuanya bahagia. Namun, mereka tetap ikhlas menjalani kehidupan dunia luar yang serba bayar parkir.
#skip aja, curhat. Tepat saat selesai acara di Malang. Melihat fenomena teror bayar parkir yang ternyata lebih parah daripada di kota kuliah saya(Jogja). Saat mengantarkan teman untuk ngambil duit di atm. Sengaja saya tidak turun dari sepeda motor dan posisi motor tetap saya nyalakan, kemudian teman saya turun mengambil duit. "BAJINGAN" batin saya. Tukang parkir ini tetap meminta untuk membayar, teman saya memberikannya tanpa rasa marah sedikitpun. "Ora batin a Sa?" tanya saya. "Ya mau gimana lagi wes biasa ngono iku" jawab teman saya. Moment membayar parkir merupakan salah satu bentuk ikhlas tersulit menurut saya. #skip aja, curhat
Fortta menurut saya juga tidak kompak-kompak amat seperti yang di gaungkan di yel-yel video. Bila saya mengamati, angkatan saya ini terpecah menjadi banyak, seperti ormas di negara ini. Santos genk, Paido Team, LAB genk, Sekber genk, Mia genk (1,2,3,4), IIS genk, kedinasan genk, keterimaDuluan genk, UTBK genk, Khos genk dan diantara genk-genk itu masih memecah banyak lagi. Namun genk-genk ini bersatu dengan kualitas terbaik mereka untuk memberikan yang terbaik pada ibu dari genk-genk ini "Forttablazed". Segala faktor penghambat kemajuan di serang oleh agen-agen terbaik mereka.
Tulisan ini hanya opini sederhana yang sebenarnya kisah teman-teman tidak sesederhana itu. Wajar, sebagai orang biasa yang malas untuk riset dan menulis banyak. Saya juga tidak perlu effort menanyai satu-satu nasib mereka. Dan opini ini hanya ditujukan pada angkatan cowo. Dikarenakan minim pengetahuan tentang teman-teman cewe jadi saya tidak bisa menuliskannya(sok asyu). Semua teman-teman pasti memiliki banyak cerita unik saat mereka sudah menjalani kehidupan dunia luar. Esensi menumbuhkan jenggot masa muda (tanya agym). Berkuliah di negara petasan (tanya jimbon). Berkuliah di institut seni (tanya said). Esensi menjalani kehidupan dewasa(tanya alex). Expert English language tanya (isom). Berkuliah dibayar ngabdi (tanya tegar). Berkuliah penuh ujian tekanan (tanya haikal). Berkuliah dengan pacaran (tanya jeyhan, ilul, irsa, bopung, danang). Berkuliah dengan rambut gondrong (tanya jepon). Berkuliah dengan pencak silat (tanya ahga). Berkuliah dengan investasi (tanya bagong). Berkuliah karena belum siap nikah (tanya fawas). Berkuliah mencari barokah dosen dengan cium tangan serta tidak jelas dan tetap menjomblo, tanya saya hahhahaa (sedikit promosi).








0 komentar:
Posting Komentar